Sabtu, 26 November 2011

Untuk Apa Saya Hidup?

Inilah sebuah pertanyaan abadi, tak pernah lekang oleh waktu. Untuk apa saya hidup adalah sebuah gugatan kepada setiap insan manusia yang hidup. Saya sendiri tidak berani menjawabnya, karena saya sendiri sedang mencari jawabannya dalam peziarahan kehidupan saya sendiri. Lalu anda, untuk apa anda hidup? Carilah jawabannya dan jika engkau menemukannya, niscaya kebahagiaan menaungi hari - hari hidupmu.

Sabtu, 19 November 2011

DPR dan Nurani Perwakilan

Polemik seputar gaya hidup DPR nampaknya tidak pernah usai. Setelah beberapa waktu lalu masyarakat dibuat gerah oleh inisiatif DPR untuk disediakan laptop mewah seharga puluhan juta rupiah dan setelah hampir saja rumah baru supermewah yang diusulkan oleh DPR nyaris dibangun, kini masyarakat indonesia dibuat tergeleng -geleng oleh gaya hidup supermewah - hedonis yang diperlihatkan oleh para wakil rakyat. Sebagai contoh kita ambil mobil para anggota DPR.


Jika anda sempat mampir ke lapangan parkir gedung DPR, mungkin anda akan terkesima dengan jejeran mobil-mobil mewah yang ada di situ. Anda mungkin berdecak kagum seraya mengagumi kekayaan para pemiliknya. Tetapi segera setelah anda tahu para pemiliknya, mungkin kekaguman anda berubah menjadi kekecewaan dan malah hujatan. "Tidak tahu diri benar para wakil rakyat ini" atau "dari mana mereka mendapatkan uang untuk membeli mobil semahal ini", mungkin kata - kata ini akan keluar dari mulut anda atau mungkin anda akan mengeluarkan kata - kata yang lebih keras atau bahkan lebih kasar dari itu.

Secara pribadi saya ingin mengajukan sebuah pertanyaan sederhana, "sadarkah para wakil rakyat akan realitas masa yang mereka wakili?'' Pertanyaan ini bagi saya sangat penting untuk dikemukakan, oleh sebuah  alasan.

Nama adalah identitas (Nomen est omen)
Ungkapan ini bisa menggugat segala yang melekat dalam predikat wakil rakyat. Mereka ada di senayan untuk mewakili masyarakat yang telah memilih mereka. Mereka adalah wakil dan bukan tuan. Sebagai wakil mereka harus memahami hidup, bahasa dan seluruh realitas dari masyarakat yang mereka wakili. Dengan kata lain, mereka harus hidup, bertutur kata dalam bahasa orang-orang (masyarakat) yang mereka wakili. Mereka tidak boleh melampauinya. Karena jika demikian yang terjadi maka mereka tdak lagi disebut wakil melainkan pengkhianat.
Menjadi wakil rakyat berarti hidup, berpikir dan bertindak untuk orang-orang yang mereka waikili. Gaya hidup mereka harus mencerminkan realitas masyarakat yang mereka wakili. Gaya hidup mewah bertentangan dengan prinsip ini. Wakil rakyat harus mengawini realitas masyarakat indonesia yang sebagian besarnya hidup di bawah garis kemiskinan. Tentu ini tidak berarti bahwa mereka harus hidup melarat. Yang saya maksudkan dengan mengawini realitas masyarakat yang diwakili berarti mereka memahami realitas masyarakat, lalu hidup solider dengan masyarakat  dan berjuang untuk memperbaiki hidup masyarakat yang mereka wakili. Inilah yang disebut sinergi dan pertautan. Inilah yang saya maksudkan dengan nama adalah identitas (nomen est omen).

Minggu, 06 November 2011

Komodo, for whom?

The raising debates around whether the new7worldwonder foundation is legal or not and whether advantageous or not for Komodo to be in the list of new seven world wonders for me are not important. They are peripherials.

By its history, Komodo is one of the world wonder. Another thing is the world acknowledgment to Komodo. It is what we fight for. But it is not our greatest fight. The greatest fight is taking care of Komodo, conserving this ancient animal and make sure that it lives for generation and generation.

As many scientists say that Komodo will help us to know the earth history. It's million years of survival in fact tells us how the universe and the earth in special way is forming. Komodo, in this sense, is for us all. It is not only for indonesian people but for all human being and all the earth inhabitants included.

Sabtu, 05 November 2011

Sampah di Jakarta. Masalah peradaban?

Apakah ada hubungan antara masalah sampah di Jakarta dengan perkembangan peradaban masyarakat penghuni Jakarta. Adakah hubungan antara penghargaan terhadap sampah dengan peradaban? Apakah sebuah negara/ kota dengan tingkat akumulasi sampah yang tinggi sekaligus berserakan hingga membentuk lautan sampah mengindikasikan bahwa penduduk kota/ negara tersebut memiliki peradaban yang rendah?

Sampah sebagai sisa barang/ benda/ material yang tidak kita gunakan layak mendapat perlakuan yang baik. Di sini yang saya maksudkan dengan perlakuan baik terhadap sampah adalah menempatkan material/ sisa yang tidak kita gunakan itu pada tempatnya. Perlakuan baik terhadap sampah memiliki implikasi arah ganda. Pertama, dengan menempatkan sampah pada tempatnya kita hendak mengatakan 'terima kasih, engkau telah memberikan aku yang terbaik dari dirimu dan sekarang sebagai rasa terima kasihku aku menempatkan engkau di tempat terbaik juga.' Perlakuan ini menunjukan bahwa kita adalah pribadi yang memiliki rasa terima kasih pada apa saja yang telah memberikan fungsinya bagi kita. Kedua, dengan membuang sampah pada tempatnya kita juga menempatkan diri kita pada posisi yang aman, nyaman. Kemungkinan terjadinya banjir bisa diminimalisasi, karena got -got bisa mengalirkan air dengan baik, pemandangan selalu segar karena tidak ada bau menyengat dari tumpukan sampah yang membusuk di sembarang tempat.

Demikianlah cara memperlakukan sampah erat kaitannya dengan peradaban. Semakin baik sebuah negara/ kota memperlakukan sampah berarti warganya memiliki peradaban yang baik dan sebaliknya semakin buruk sebuah negara/ kota memperlakukan sampah maka peradabannya buruk/ rendah. Lalu apakah warga Jakarta memiliki peradaban yang baik?  Melihat sampah yang berserakan di mana - mana dan menyaksikan begitu banyak masyarakat tak terkecuali yang mengemudi mobil mewah membuang sampah di sembarang tempat, saya ragu kalau warga kota ini memiliki peradaban yang maju..Jika ada yang keberatan, maka mulailah untuk memperlakukan sampah dengan baik dan terhormat.