Menarik untuk melihat perkembangan partai politik Nasdem dalam
beberapa waktu belakangan ini. Jargon
politiknya ‘gerakan perubahan’ menjadi daya pikat tersendiri terutama untuk
generasi muda. Dan yang paling menarik sekaligus mengundang pertanyaan dari
semua fenomena Nasdem adalah pengukuhan Surya Paloh sebagai Ketua Umum Nasdem
di hari pertama kongres pertama partai ini tanggal 25 Januari 2012.
Ini menarik karena pertama, Nasdem adalah partai yang
gencar mengkampanyekan perubahan dengan politiknya “Restorasi Indonesia”. Kedua, karena tokoh yang dikukuhkan
menjadi Ketua Umum partai adalah Surya Paloh yang nota bene pendiri ormas
Nasdem dengan sayap politiknya kemudian Partai Nasdem. Ketiga, karena semenjak pengukuhan ini masih sebagai wacana
beberapa tokoh teras partai Nasdem ramai-ramai keluar dari partai. Keempat, karena jalan kepada pengukuhan
ini tidak melalui sistem pemilihan demokratis melalui mana setiap peserta
kongres yang memiliki hak pilih menggunakan haknya untuk memilih sekaligus
dipilih.
Pengukuhan: Antitesis Perubahan
Perubahan.
Itulah yang diusung Surya Paloh dan Partai Nasdem. Tetapi itu pula yang dikhianati
keduanya. Mengapa? Pertama, perubahan
secara sederhana berarti melepaskan sikap, tingkah laku sekaligus kebiasaan
lama yang kurang baik menuju sesuatu yang baru yang lebih baik. Dengan kata
lain perubahan berarti pembaruan. Perubahan secara sosial politik bisa berarti
menganti atau menyesuaikan sistem, peraturan lama dan buruk dengan sesuatu yang
baru, yang lebih baik agar aliran kehidupan sosial, ekonomi, politik maupun
aspek lainnya bisa berlangsung dengan baik. Nasdem awalnya dilihat
sebagai motor politik yang membawa gerbong perubahan. Karena itu tingkat
elektabilitas partai ini menurut poling oleh beberapa lembaga survei
ditempatkan dalam kelompok 5 besar parpol pemenang pemilu 2014. Nasdem oleh
jargon politik ‘perubahan’ yang dikumandangkannya diharapkan menjadi antithesis
kecenderungan oligarki kelompok/parpol yang dikuasai oleh kalangan kapitalis
yang merambah politik demi tujuan ekonomi.
Tetapi apa yang terjadi beberapa hari
belakangan ini menunjukkan perkembangan sebaliknya. Nasdem jatuh ke dalam
lubang terjal status quo yang pernah coba ditimbunnya dengan batu-batu
perubahan. Pengukuhan Surya Paloh sebagai ketua umum Nasdem menunjukkan ego
politk yang sangat besar sang pendiri yang bertumpu pada hasrat akan kekuasaan
yang hampir tidak terpuaskan sekaligus menunjukkan lemahnya kehendak bersama
DPP dan segenap pemangku kepentingan untuk menentang pengukuhan itu demi
perubahan. Karena perubahan
adalah pelepasan semua ego dan hasrat egotis kekuasaan seperti itu.
Kedua,
Nasdem dalam sekejap telah berubah menjadi antitesis perubahan. Partai ini
mengkhianati roh yang menginspirasi sekaligus menggerakkannya, ia
mencabik-cabik pesona yang pernah membuat begitu banyak rakyat terpesona. Elan
vital yang memberinya hidup dan gairah telah ditinggalkannya. Maka tidak heran
ratusan kader potensial meninggalkannya karena ia terlalu cepat berubah rupa
dan menua digerogoti hasrat akan kekuasaan yang begitu mencabik-cabik pesona
mudanya di satu sisi dan lemahnya pembelaan terhadap mekanisme demokrasi
sebagaimana jargon restorasi yang dikampanyekannya di sisi lain. Walau ia masih
bertahan, roh yang menggerakkannya telah meninggalkannya. Dia tidak lagi punya
pesona yang menjadi kekuatan pembeda dari parpol yang lain.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar